Perihal Mengejar Akhirat tanpa Meninggalkan Dunia

(Sumber: Pinterest)

Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang

Tidak perlu kejar dunia, lebih baik meraih akhirat. Mungkin kalimat tersebut sering terucap dari mulut seorang keluarga, sahabat, teman, atau orang yang kita temui. Jika melihat selintas tentang maksud dari kalimat itu terkesan masuk akal. Namun, Islam merupakan agama moderat yang mengedepankan keseimbangan dan toleransi. Tidak berlebih-lebihan akan sesuatu juga menjadi pedoman dalam kehidupan umat Islam. Kita lupa bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk mengejar akhirat, tanpa melupakan dunia.

Fenomena tersebut relevan dengan masyarakat kita saat ini. Kebingungan dalam menentukan prioritas hidup menjadi masalah seorang Muslim. Mana dulu yang didahulukan: dunia atau akhirat. Pertanyaan tersebut dijawab dalam QS. Al-Qashash ayat 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٧٧

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Nasihat dari ayat tersebut bermakna bahwa seseorang dapat berusaha sekuat tenaga untuk mencari harta dunia dengan cara menginfakkannya di jalan Allah. Menikmati dunia juga bukanlah hal yang salah, hanya saja jangan berlebihan. Tujuan utamanya tetap, yakni untuk ibadah dan kebaikan.

Seseorang yang mengutamakan akhirat mendapat banyak nikmat melebihi dunia dan akhirat itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. As-Syura ayat 20 berikut:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ ۝٢٠

“Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.”

Ayat tersebut menjelaskan jika seseorang hanya niat dan fokus pada dunia, maka diberikan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Namun jika ia menghendaki keuntungan di akhirat melalui amal-amal yang dilakukannya di dunia dengan niat yang benar, akan ditambahkan keuntungan itu dengan melipatgandakannya.

Dunia dan akhirat tidak bertentangan. Satu sama lainnya saling mengikat. Dunia dibutuhkan sebagai sarana untuk meraih akhirat. Ladang untuk menanam amal dilakukan di dunia. Anggap saja hidup dunia sebagai ujian yang diberikan oleh guru dan akhirat adalah nilai kelulusan dari hasil ujian tersebut. Walau sulit untuk menikmati dunia, tetapi pada akhirnya kita mendapatkan yang diinginkan sesuai dengan kadar usaha yang kita lakukan.

Bagaimana kita memulai untuk mengejar akhirat tanpa meninggalkan dunia? Nyatanya setiap sendi kehidupan kita dapat bernilai pahala. Caranya ialah dengan meniatkan segala urusan dunia sebagai ibadah untuk mengagungkan Allah. Beri seluruh relung hati kita untuk Allah. Kita masih boleh untuk mencintai hal lain seperti seseorang, harta, jabatan, dan semacamnya. Namun perlu diingat bahwa takaran cinta yang kita berikan tidak boleh melebihi cinta kepada-Nya. Allah harus menjadi kecintaan kita paling atas dibandingkan yang lainnya.

Selalu memperbaiki dan merefleksi diri terhadap apa yang sudah diperbuat menjadi kunci kesadaran kita. Sadar seberapa jauh kita mengenal dunia dan seberapa dalam kita menginginkan akhirat. Jika ukurannya tidak seimbang, kita perlu memikirkan ulang prioritas hidup.

Urusan dunia bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi untuk dibenahi. Benahi dengan perlahan dan cermat agar tidak jatuh ke dalam jurang kesesatan. Untuk apa saja dunia ini kita manfaatkan menjadi perhatian utama kita. Lebih banyak amalan baiknya atau buruknya karena apa yang kita lakukan di dunia akan berdampak kelak di akhirat. Maka, eksistensi kita di dunia hadir sebagai cerminan kita di alam akhirat kelak.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top