Istidraj: Kenikmatan yang Diam-Diam Menyesatkan Manusia

(Sumber: Freepik)

Kehidupan mengajarkan kita jika melakukan amal baik, maka akan dibalas dengan yang baik pula. Namun dalam peristiwa tertentu, seseorang bisa mendapatkan kenikmatan walaupun ia sering melakukan keburukan. Dalam Islam itu disebut istidraj. Istidraj berasal dari kata bahasa Arab “daraja” (درج), secara harfiah berarti bertingkat, naik tangga, atau berangsur-angsur. Secara istilah, istidraj bermakna ujian dari Allah berupa pemberian kenikmatan duniawi kepada seseorang yang banyak melakukan dosa sebagai bentuk azab.

Istidraj merupakan semacam jebakan kenikmatan duniawi yang diberikan kepada orang yang kerap meninggalkan perintah dan melanggar larangan Allah. Hal ini tidak bisa disebut tanda kasih sayang, melainkan hukuman berupa kenikmatan yang disegerakan. Sebagaimana sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj dari Allah.” (HR. Ahmad, 4:145)

Banyak orang mengira nikmat dunia yang Allah berikan ialah sebuah kemuliaan, padahal sebaliknya—itu bentuk ujian dan hukuman yang dibebankan kepadanya. Dalam QS. Al-A’raf ayat 182-183 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝١٨٢ وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ ۝١٨٣

“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.”

Istidraj datang dengan dari beberapa arah, dapat berupa nilai materi, jabatan, sosial, hingga kenikmatan jasmani. Kita sering lupa dalam memahami kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Apakah ia bermakna keberkahan atau kesesatan.

Bentuk istidraj ini seing kali disamarkan sehingga sulit untuk disadari oleh beberapa orang. Seseorang mudah tertipu akan nikmat duniawi ini. Istidraj itu bagaikan kado yang terbungkus indah, tetapi isinya penuh dengan tipu daya.

Berikut ini tanda-tanda istidraj yang sering kali menipu kita:

1. Nikmat Dunia Meningkat, Iman Melemah

Berbagai kesuksesan dan kekayaan datang silih berganti. Padahal seseorang sama sekali tidak menjalankan perintah Allah. Seseorang harus membayar kesuksesan tersebut dengan iman yang semakin melemah. Mulai berani untuk melupakan Sang Pemberi Rezeki dan berpikir segalanya datang hanya karena dirinya. Ia lupa menjadi hamba yang bersyukur.

2. Mudah dan Nyaman dengan Maksiat

Semakin diberi kenikmatan yang sesat dan sesaat (istidraj), seseorang semakin akrab dengan perilaku berbau maksiat. Ia menyangka hidupnya lancar-lancar saja tanpa halangan karena kenikmatan duniawi selalu didapatkannya. Akibatnya, ia mudah untuk berdekatan dengan keburukan dan dosa-dosa.

3. Enggan Bersedekah

Hati seseorang yang selalu diliputi kenikmatan berupa harta berlimpah memiliki kemungkinan untuk lupa akan keberadaan Allah. Ia merasa tinggi karena seluruh keinginannya dapat terwujud dengan kekayaannya. Empatinya menjadi mati dan tidak dipakai lagi.

4. Menganggap Enteng Kehidupan

Seseorang yang diberi istidraj menganggap hidupnya mudah tanpa ujian berupa musibah. Padahal ujiannya ialah kenikmatan tersebut. Tidak salat, tidak bersedekah, tidak puasa, dan tidak menjalankan syariat lainnya, tetapi kebutuhan hidupnya selalu terpenuhi. Seharusnya ia curiga tentang hal ini, karena semua orang tahu hidup di dunia tidak akan semudah itu.

Sebagai umat Muslim kita harus sadar akan keberadaan istidraj. Kita perlu mengetahui bahaya-bahaya yang tersembunyi di balik isitidraj. Ia diam-diam menyesatkan umat manusia ke dalam jurang tanpa terduga.

Kita diperintahkan untuk selalu merefleksi diri perihal apa yang telah kita perbuat di dunia. Apakah kenikmatan yang kita lakukan sepadan dengan amal dan kebaikan yang kita dilakukan. Dengan memperbanyak zikir, bertaubat, mensyukuri keberkahan, dan senantiasa meningkatkan ibadah kepada Allah menjadi kunci menghindari istidraj.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top