
Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang
Uban sering kali kita jumpai pada orang yang berusia lanjut. Namun, tidak menutup kemungkinan ditemui pada orang dewasa maupun remaja karena faktor genetik, kebiasaan merokok, vitiligo, dan sebagainya. Banyak orang hanya menganggap bahwa munculnya uban atau rambut yang memutih ini menyimbolkan usia seseorang. Namun, Islam memiliki pandangannya tersendiri terkait uban ini.
Berubahnya rambut seorang Muslim memiliki beberapa hikmah yang dapat kita petik. Dikisahkan oleh Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad bahwa orang pertama yang bertumbuh uban di kepala adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam kitabnya bertajuk Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadhi Lahu minal A’mar (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 43), Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa uban memiliki makna sebagai pengingat:
والشيب مُذَكِّرٌ، أي مذكر بقرب الأجل، وَطَيِّ بساط الأمل، وَمُؤْذِنٌ بقرب الرحيل، وسرعة التحويل. ويقال: الشيب مظنة الأجل، وطريدة الأمل ويقال أيضا: ما أقبح غشيان اللَّمَم إذا ألم الشيب باللِّمَم
Artinya: “Rambut uban (akibat usia, red) itu merupakan pengingat akan dekatnya ajal, tertutupnya jalan cita-cita dan angan-angan. Ia juga menandakan masa ‘berangkat’ sudah dekat, dan tidak lama lagi akan berpindah. Ada pula yang mengatakan bahwa rambut uban merupakan pertanda tibanya ajal dan penghapus cita-cita. Sebuah pepatah mengatakan ‘Alangkah buruknya perbuatan dosa betapa pun kecilnya bila rambut telah mulai beruban.’
Melansir dari situs NU Online dan Antaranews, uban menurut kacamata Islam mengandung beberapa makna. Berikut beberapa di antaranya:
1. Pengingat Kematian
Munculnya uban merupakan pengingat bahwa seseorang telah berumur. Tidak bisa menganggap kehidupan di dunia ini abadi. Seorang Muslim sudah sepatutnya memikirkan dan memantaskan perbuatan untuk akhirat, karena semakin lama ia semakin dekat dengan ajal. Dalam QS. Fatir ayat 37 menjelaskan bahwa bertambahnya umur menjadi tanda seseorang untuk meningkatkan kualitas ibadah dan evaluasi diri.
2. Menyimbolkan Wibawa Seseorang
Warna putih dari uban menyimbolkan wibawa seseorang. Allah memuliakan orang yang sudah beruban, tertuang dalam sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam yang berbunyi:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ
Artinya: “Sesungguhnya bagian dari memuliakan Allah adalah menghormati seorang Muslim yang telah beruban (yang sudah lanjut usia). (HR. Abu Dawud).
3. Menjadi Penanda Fase Kehidupan
Tumbuhnya uban menjadi penanda fase kehidupan telah bergeser. Dengan umur yang sudah berkurang jatahnya, seorang Muslim harus sadar akan keadaannya. Segala urusan, baik yang duniawi ataupun akhirat tidak bisa dianggap permainan. Perilaku sembrono digantikan oleh pikiran lebih bijaksana agar mimpi yang kita inginkan.
4. Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
Kelak di hari kiamat, uban menjadi cahaya penerang seorang Muslim. Di satu sisi, uban juga menandakan meningkatnya derajat seseorang di mata Allah.
الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة
Asy-syaibu nūru al-mu’min, lā yasyību rajulun syaybatan fī al-islāmi illā kānat lahu bi kulli syaybatan hasanah wa rufi’a bihā darajah.
Artinya: Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban -walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir menyampaikan bahwa hadits ini hasan).
Nyatanya uban tidak hanya menyimbolkan umur seseorang. Islam memandang uban sebagai pengingat ajal, perihal wibawa seseorang, penanda fase kehidupan, serta kelak menjadi cahaya penerang di hari kiamat. Berubahnya rambut seorang Muslim perlu diikuti dengan perubahan nyata pula melalui tindakan dan ucapan. Munculnya uban mengajak seseorang untuk selalu memperbaiki diri serta siap untuk menghadapi bumbu-bumbu kehidupan.