Manusia Pendusta yang Berujung Nestapa

(Sumber: Freepik)

Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang

Di zaman yang serba cepat dengan bantuan teknologi membuat orang mudah untuk berkomunikasi. Di satu sisi, informasi tersebut sangat bermanfaat dan bernilai tinggi bagi orang lain. Sementara itu, tak sedikit orang yang menggunakannya untuk menyebarkan kabar bohong, karena hanya iseng untuk kepentingan pihak tertentu. Padahal, dalam Islam, orang yang berdusta berujung nestapa.

Bohong atau dusta bermakna tidak mengatakan sesuai dengan kenyataannya. Berdusta sering dianggap perkara yang kecil, padahal dapat mengakibatkan berbagai keburukan lain datang. Islam mengharamkan sifat bohong atau dusta kepada manusia.

Dalil Perihal Larangan Berdusta

Hukum larangan berdusta tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 42:

 

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).”

Pokok kandungan ayat tersebut meliputi larangan menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan, serta menyembunyikan kebenaran. Kita diperintah untuk mengatakan kebenaran sesuai dengan kenyataan.

Selain itu, dalam QS. An-Nahl ayat 105 menegaskan bahwa orang yang berbohong sejatinya bukanlah orang yang beriman:

إِنَّمَا يَفْتَرِى ٱلْكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

Adapun hadis yang menjelaskan bahwa berbohong merupakan perilaku orang munafik:

“Tanda-tanda munafik ada tiga yaitu apabila berkata dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya berlaku khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hukuman Bagi Orang yang Berdusta

Orang yang berdusta akan mendapatkan hukumannya tersendiri.

Pertama, mendapatkan azab yang pedih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 10:

فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ‌ۚ وَّلَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۙۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡذِبُوۡنَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.”

Kedua, berdusta menggiring pada keburukan lainnya dan membawanya pada siksa neraka yang dahsyat. Sesuai hadis riwayat Muslim berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (HR. Muslim).

Ketiga, seorang pendusta masuk ke dalam golongan orang munafik sesuai hadis riwayat yang sudah dijelaskan di bagian awal tadi. Orang yang berbohong merupakan orang mengingkari perintah-perintah Allah SWT.

Dusta yang Dibolehkan

Berdusta merupakan perbuatan tercela yang menyebabkan dosa besar ya. Namun ada pengecualian di mana seseorang boleh berbohong untuk keringanan. Ada tiga kondisinya sesuai dengan hadis berikut:

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).” (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, Lafazh Muslim).

Poin pertama orang boleh untuk berbohong ialah ketika peperangan (jihad). Biasanya digunakan untuk menyusun strategi perang dan tipu muslihat untuk melawan musuh.

Kedua, bohong dengan niat mendamaikan orang yang berselisih. Caranya dengan menyisipkan sedikit dusta yang bersebrangan dengan kenyataan demi menenangkan pihak bertengkar.

Ketiga, dalam kehidupan rumah tangga kita diperbolehkan untuk berbohong. Namun perlu dicatat untuk menjaga keharmonisan, seperti memuji masakan pasangan walaupun kurang enak rasanya.

Pada akhirnya, pendusta akan mendapat takdir yang nestapa dalam Islam. Satu dusta membawa pada dusta lainnya. Seseorang tidak akan tenang ketika menjalani hidupnya, penuh keresahan, hingga mendapatkan dosa yang besar. Dusta tidak bisa diremehkan oleh manusia, karena ia perlahan menggerogoti jiwa manusia: mulai dari hati ucapan dan berujung pada tindakan yang merugikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top