Bagi sebagian orang, keterbatasan fisik adalah titik henti. Namun bagi Khairul Fikri (29), disabilitas bukanlah sebuah kekurangan, melainkan sebuah amanah besar dari Sang Pencipta. Lahir sebagai satu-satunya disabilitas dari empat bersaudara, Khairul tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah sosok pilihan.
“Allah mentakdirkan saya sebagai disabilitas berarti Allah percaya saya bisa menjalani. Saya diamanahi, dan saya yakin di balik kesulitan pasti ada kemudahan,” ungkapnya dengan penuh keteguhan.
Perjuangan Tanpa Batas: Dari Aceh ke Bandung
Keberanian Khairul teruji ketika ia memutuskan merantau sendirian dari tanah kelahirannya, Aceh, menuju Bandung untuk menempuh pendidikan tinggi, di Universitas Islam Nusantara (Uninus), ia memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Alasannya sederhana namun menyentuh: karena jati diri seorang disabilitas, dan ingin sekaligus membantu sesama disabilitas, terutama di kampung halamannya.
Selama 3,6 tahun, Khairul menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Setiap hari, ia harus berjuang menaiki tangga hingga lantai tiga dengan cara merangkak. Namun, lelah fisik itu ia bayar tuntas dengan prestasi gemilangnya. Lulus dengan IPK Tertinggi dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Terbaik se-Jawa Barat. Tak berhenti disitu, ia juga dinobatkan sebagai pemenang Juara 1 Desain Logo Universitas dan wisuda yang hingga kini masih digunakan secara resmi.
Melukis Dunia dengan Dua Jari
Bakat seni Khairul sudah terlihat sejak kelas 3 SD saat ia meraih Juara Harapan 1 lomba melukis. Meski belajar secara otodidak, ia mampu menghasilkan karya sketsa indah yang dikerjakan hanya dengan menggunakan dua jari. Karya-karya ini ia pasarkan melalui media sosial, membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas fisik.
Ibu Hadir sebagai Bahan Bakar Ketangguhan
Di balik sosoknya yang kuat, ada doa dan air mata seorang ibu. Meskipun sang ibu merasa belum bisa memberikan kemewahan materi, bagi Khairul, sosok ibunya adalah kesempurnaan. “Ibu adalah alasan saya ingin sukses dan menjadi orang yang berarti,” tuturnya. Ketegaran ibunya dalam menghadapi takdir sejak Khairul lahir telah menanamkan prinsip “Aku Harus Bisa” dalam sanubarinya.
Visi Masa Depan: Sekolah Digital untuk Difabel
Khairul tidak ingin berhenti pada kesuksesan pribadi. Ia memiliki rencana besar untuk membangun Sekolah Digital bagi kaum difabel di Aceh dan Bandung. Ia menyadari bahwa materi belajar konvensional seringkali membosankan bagi teman-teman disabilitas.
“Kita tau, bagi seorang disabilitas itu membosankan untuk berpendidikan, karena pasti hanya menerima materi saja. Saya ingin mereka belajar untuk berkreativitas juga, dan saya ikhlas memberikan apa yang saya punya.” kata Khairul.
Bagi Khairul, hidup adalah tentang perspektif. Kepada rekan-rekan disabilitas lainnya, ia berpesan:
“Jangan pernah malu pada keadaan. Kita disabilitas bukan berarti punya kekurangan, justru kita adalah gambaran bagi orang lain tentang bagaimana caranya bersyukur dan bersabar. Jatuh sekali, bangkitlah berkali-kali.”
