
Penulis : Alief Maulana Firmansyah/Magang
Dalam perjalanan hidup siapapun, pasti tidak semua berjalan dengan lancar atau sesuai dengan rencana. Selalu ada kalanya usaha susah di laksanakan, doa telah di panjatkan, namun hasilnya tetap berbeda dengan harapan. Pada posisi ini lah orang-orang merasa kecewa, lelah, bahkan mempertanyakan atas perjuangan yang telah di lakukan. Padahal dalam islam, ada satu sikap hati yang menjadi kunci ketenangan, yaitu tiada lain tiada bukan ialah ikhlas menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Kenapa ikhlas sering di salah artikan menyerah atau pasrah tanpa usaha?, Padahal ikhlas bukan berarti berhenti berjuang, melainkan menerima ketetapan Allah setelah ada upaya yang telah kalian lakukan. Ikhlas merupakan sikap sempurna yang menenangkan.
Ada salah satu ayat yang mengingatkan bahwa keterbatasan manusia dalam menilai juga memahami masa depan selalu jadi sumber kegelisahan. Kita menilai dan melihat sesuatu dari sudut pandang saat ini, sementara allah melihat keseluruhan perjalanan hidup kita, ayat yang di maksud adalah surat Al-Baqarah : 216
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu, Allah mengegahui, sedang kamu tidak mengetahui“.
Antara Usaha dan Takdir
Pada kehidupan saat ini semua serba terukur, manusia cenderung ingin mengatur dan mengontrol segalanya. Target di buat sedetail mungkin, rencana di susun matang-matang. Namun realita kehidupan berbicara lain. Di sinilah terjadi benturan antara kehendak Allah dan keinginan manusia terjadi.
Kita semua tau bahwa dalam islam tidak melarang perencanaan, justru, Rasulullah SAW mengajarkan umat nya berusaha dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah SWT. Ketika hasil yang telah di usahakan tidak sesuai harapan, ikhlas menjadi jembatan agar tetap lapang.
Allah SWT berfirman :
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
“Dan hanya kepada Allah-lah hendak orang mukmin bertawakal“ (QS. At-Taghabun : 13)
Tawakal bukan berarti pasif, tetapi sikap menyerahkan hasil setelah usaha di lakukan. Dalam konteks ini, ikhlas adalah wujud nyata dari tawaqal itu sendiri.
Ini penting untuk di pahami, ikhlas tidak menuntut untuk manusia selalu bahagia dan terlihat kuat. Merasa kecewa, lelah, dan merasa sedihitu merupakan hal yang manusiawi. Islam tidak menafikan persaan tersebut.
Nabi Ya’qub AS menangis karena putranya, Nabi Muhammad SAW saat orang-orang yanh di cintainya wafat, tetapi kesedihan itu tidak membuat mereka berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Allah berfirman :
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan l“ (QS. Al-Insyirah :6)
Ikhlas berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi, namun tidak larut dalam keputusasaan. Hati boleh lelah, tetapi harapan tetap dijaga.
Menutup Hari dengan Ikhlas
Belajar ikhlas adalah proses, bukan tujuan instan. Tidak selalu berhasil dalam sekali mencoba. Ada hari-hari di mana hati kembali gelisah, dan itu wajar. Yang terpenting, kita terus melatih diri untuk menerima, berserah, dan melangkah kembali.
Ikhlas tidak menghilangkan masalah, tetapi menguatkan hati untuk menghadapinya. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, ikhlas menjadi pegangan agar manusia tetap tegak, tenang, dan penuh harap.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mengontrol segalanya, melainkan tentang memercayakan segalanya kepada Allah dengan hati yang lapang.
