
Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan tonggak sejarah Islam yang menjadi salah satu anugerah terbesar yang lahir di muka bumi ini. Secara sederhana, Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) yang puncaknya melintasi tujuh lapisan langit menggunakan Buraq menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa tersebut dilakukan hanya dalam rentang waktu satu malam.
Awal Mula Perintah Solat Diberikan
Di Sidratul Muntaha, Nabi menerima perintah pertama untuk salat langsung dari Allah. Awalnya berjumlah 50 waktu, tetapi setelah menerima saran dari Nabi Musa AS, jumlah tersebut berkurang menjadi lima waktu wajib yang kita kenal hingga saat ini.
Kalender Hijriah mencatat peristiwa ini pada tanggal 27 Rajab. Pada perhitungan Masehi, untuk tahun 2026, hari peringatan Isra Mi’raj tepat jatuh pada Jumat 16 Januari. Ada perbedaan cara perhitungan ini karena kalender hijirah mengikuti perputaran bulan, sedangkan Masehi dihitung berdasarkan waktu perputaran bumi (revolusi). Hal ini membuat kalender Masehi akan maju kira-kira 10 sampai 11 hari dari tahun sebelumnya.
Makna Perjuangan Peristiwa Isra Mi’raj
Umat Islam tidak hanya belajar sejarah Islam tentang peristiwa Isra Mi’raj yang agung ini, tetapi juga memberikan bahan bakar baru untuk lebih giat beribadah. Perayaan Isra Mi’raj memberikan kesempatan kita di bulan Rajab untuk mengisi aktivitas dengan mendekatkan diri dan meneladani perjuangan Rasulullah ketika peristiwa tersebut.
Dalam beberapa aspek kehidupan, perjalanan yang menembus ruang dan waktu ini dapat seorang Muslim maknai dengan dalam. Penjelajahan spiritual yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan makna-makna yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya:
1. Menguji Kekuatan Iman
Rasulullah betul-betul ditempa dengan ujian perjalanan Isra Mi’raj. Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, Nabi mengalami Tahun Kesedihan (Amul Huzni) karena ia kehilangan kedua orang setianya. Dua orang yang meninggalkannya adalah Abu Thalib dan istrinya, Khadijah. Pikiran dan hatinya benar-benar diuji. Iman yang tetap teguh untuk menjalani perintah Allah walaupun ia merasakan kesedihan yang mendalam.
2. Luhurnya Ibadah Salat
Perintah salat lahir dalam rangkaian peristiwa Isra Mi’raj. Biasanya Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Namun, pada saat itu Allah langsung yang memberikannya perintah salat. Hal ini menunjukkan betapa spesialnya ibadah ini karena komunikasi terjalin langsung dari Tuhan kepada hamba-Nya.
3. Percaya kepada Allah
Nabi Muhammad ketika itu berserah diri dan patuh kepada perintah Allah. Nabi menggambarkan kepatuhan yang mutlak untuk percaya kepada Allah tanpa adanya setitik keraguan dalam hatinya.
4. Dibalik Kesedihan, Ada Pertolongan
Pada tahun itu Nabi mengalami duka yang menyesakkan karena ditinggalkan kedua orang yang paling dicintainya di dunia. Isra Mi’raj datang sebagai pertolongan dari Allah. Di sisi lain, peristiwa ini juga sebagai penghibur Nabi Muhammad dalam kesedihannya.
Lantas sebagai seorang mukmin, apa saja hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj? Beberapa di antaranya kita dapat memahami bahwa perjalanan spiritual tersebut mengajarkan: cara disiplin waktu dengan adanya salat lima waktu; ada wilayah keimanan yang tidak akan masuk dalam logika; serta semangat beribadah tanpa keraguan. Selain poin di atas, kita juga bisa memperbanyak istigfar, zikir, salat sunnah, dan doa sebagai amalan pada momen yang luhur ini.
Sejatinya peristiwa Isra Mi’raj tidak sekadar hadiah umat Islam, tetapi juga bentuk peneladanan sifat-sifat Rasulullah. Sifatnya tidak harus dalam bentuk perayaan. Peristiwa tersebut juga mengajak umat Islam untuk mengamalkan nilai-nilai luhur untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain dengan niat karena ibadah kepada Allah.