
Penulis: Alief Maulana Firmansyah/Magang
Kita pasti pernah menyusun sebuah rencana, ketika hendak ingin sesuatu atau pergi ke suatu tempat. Kita merencanakan akan berangkat jam berapa, mengukur lama waktu di perjalanan dan membayangkan jam berapa tiba di tempat tujuan. Tetapi, pada kenyataannya jam pemberangkatan terlambat dari rencana yang telah kita susun. Penyebabnya bisa apa saja, hal yang tidak terduga atau yang tidak kita rencanakan penanggulangannya, seperti pesawat delay.
Hidup sering kali berjalan di luar skenario, apa saja yang kita rencanakan dengan matang bisa saja berubah dalam sekejap. Rencana yang kita bayangkan itu sangat indah tidak akan selelu berakhir dengan indah. Sementara hal-hal yang justru tidak pernah terpikirkan datang mengetuk pintu kehiduapan. Di situlah kita belajar satu hal penting: Manusia boleh berencana, tetapi Allah lah yang menentukan segalanya.

Dalam buku Hadapi, Hayati, Nikmati, Aa Gym mengajak pembaca untuk memandang kehidupan apa adanya, bukan sebagai beban, melainkan sebagai ladang pembelajaran iman. Dunia, menurut beliau, memang penuh kejutan. Namun kejutan itu bukan untuk ditakuti, melainkan disikapi dengan hati yang tenang dan penuh tawakal.
Hidup manusia tak pernah benar-benar berjalan lurus sesuai rencana. Ada kalanya harapan terwujud indah, namun tak jarang pula runtuh tanpa aba-aba. Dari situlah manusia diingatkan bahwa kendali hidup ini bukan sepenuhnya berada di tangan kita. Kita boleh merancang, menata, dan berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah.
Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam QS. Al-Māidah ayat 120:
لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّۗ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ
“Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Māidah: 120)
Atas kejadian yang berada di luar jangkauan kita itu, janganlah membuat kita berpikir bahwa sia-sia saja kita berencana dan berupaya jika pada akhirnya Allah juga yang memutuskan. Jangan sampai kita berpikir seperti demikian.
Ayat ini menjadi pengingat mendasar bahwa segala kejadian di dunia berada dalam wilayah kekuasaan Allah, termasuk kejutan-kejutan hidup yang sering kali tak sesuai dengan rencana manusia.
Islam tidak pernah melarang manusia untuk berencana. Justru, ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab sebagai hamba. Kita belajar, bekerja, berusaha, dan mempersiapkan masa depan sebaik mungkin. Namun masalah muncul ketika rencana itu berubah menjadi ambisi yang kaku, seolah hidup harus selalu berjalan sesuai kehendak kita.
Aa Gym menekankan bahwa ketenangan hidup lahir saat kita mampu menempatkan ikhtiar dan takdir secara proporsional. Berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Jika berhasil, kita bersyukur. Jika gagal, kita bersabar. Keduanya sama-sama bernilai ibadah.
Kejutan Hidup sebagai Cara Allah Mendidik
Kejutan dalam hidup sering hadir dalam bentuk yang tidak menyenangkan: kegagalan, kehilangan, sakit, atau kekecewaan. Namun dalam perspektif iman, semua itu bukan hukuman, melainkan cara Allah mendidik dan menguatkan hamba-Nya.
Melalui kejadian tak terduga, Allah sedang melatih keikhlasan, menumbuhkan kesabaran, dan membersihkan hati dari rasa sombong. Kita diingatkan bahwa manusia sejatinya lemah dan sangat bergantung pada pertolongan-Nya. Ketika rencana runtuh, saat itulah keimanan diuji: apakah kita tetap percaya bahwa Allah Maha Mengetahui yang terbaik?
Menghadapi, Menghayati, Menikmati
Judul buku Hadapi, Hayati, Nikmati merangkum sikap ideal seorang muslim dalam menjalani hidup.
• Hadapi kenyataan dengan berani, tanpa lari dari masalah.
• Hayati setiap peristiwa dengan kesadaran spiritual, mengambil hikmah di baliknya.
• Nikmati proses hidup dengan rasa syukur, apa pun keadaannya.