
Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang
Bagaimana kita memandang kegagalan? Banyak dari manusia hanya mengambil yang buruknya saja. Tidak senang jika mengalami kegagalan, apalagi mengulanginya lagi. Berbeda dengan keberhasilan yang selalu disanjung-sanjung dan diberi apresiasi. Namun, apakah kita bisa menyambut kegagalan dengan riuhan tepuk tangan?
Memang sukar sekali untuk seseorang dapat menerima kegagalan. Proses berdamai dengan suatu kegagalan memiliki banyak rintangan, baik dari dalam maupun dari luar. Kadang kita merasa diri ini memang kurang dan merasa malu. Tak jarang beberapa dari kita sering menyalahkan orang lain, sehingga kita sering tidak memahami apa yang kegagalan ingin sampaikan. Berikan sedikit ruang gagal untuk singgah sejenak di hati kita.
Menurut Carol S. Dweck, seorang profesor psikologi dari Universitas Stanford, dalam bukunya yang berjudul “Mindset” menjelaskan ada dua tipe mindset seseorang dalam memandang kegagalan. Pertama, fixed mindset memahami bahwa kesuksesan menjadi indikator pembuktian kemampuan mereka. Apabila mereka berhasil berarti mereka mampu, sebaliknya jika mereka gagal artinya tidak mampu. Hal ini menimbulkan perasaan tidak berharga dan cenderung untuk menyerah.
Kedua, growth mindset. Tipe ini menganggap kegagalan ataupun keberhasilan tidak menentukan nilai diri. Walaupun gagal menyakitkan, mereka tetap berani mengambil risiko dan siap untuk mencoba lagi.
Pada titik inilah manusia diberi pilihan. Sejatinya, tidak ada manusia yang ingin gagal, tetapi bukan berarti kita harus selalu meresponsnya dengan menyerah. Ada orang yang melihat kegagalan sebagai bahan evaluasi diri dan membuatnya termotivasi mencoba lagi. Di sisi lain, ada orang yang menganggap kegagalan adalah akhir dari segalanya, sehingga cenderung untuk merasa rendah diri dan menyerah. Cara pandang tersebut menentukan arah langkah kita selanjutnya.
Pandangan kita tentang kegagalan harus berubah. Kadang sebuah kegagalan lebih bernilai dibanding keberhasilan itu sendiri. Ia memaksa kita untuk rehat sejenak dan bercermin untuk mengenali batas serta potensi pada diri. Terima kekalahan dengan lapang dada karena bisa jadi itu jalan terbaik agar langkah kita tidak keliru di masa depan.
Dibalik kegagalan, kemampuan penyelesaian masalah (problem solving) dapat terasah. Orang yang terbiasa gagal akan senantiasa mencari jalan keluar yang paling efektif dan efisien. Seseorang terdorong untuk bersikap kritis, kreatif, dan adaptif. Orang tidak terpaku pada satu cara, tetapi memiliki banyak solusi alternatif.
Terkadang kegagalan pada satu bidang justru membuka pintu peluang lainnya. Misalnya, seseorang yang gagal membangun usahanya bisa menemukan kesempatan baru di bidang yang sebelumnya tidak terpikirkan olehnya. Bisa saja menjadi tenaga pendidik, pekerja kreatif, ataupun perintis bisnis dengan cara lain. Dalam kehidupan, kegagalan menjadi titik balik seseorang untuk menemukan visi hidupnya dan melesat lebih jauh dalam versi terbaiknya.
Pengalaman jatuh dan bangkit berulang kali ikut andil dalam membentuk ketahanan mental yang luar biasa. Tentu, luka yang dialami karena gagal itu menyakitkan, tetapi seiring waktu akan sembuh dan meninggalkan bekas berupa kebijaksanaan. Berangkat dari sanalah manusia memahami bahwa kegagalan bukan tanda kelemahan. Gagal ialah bukti seseorang pernah berani mencoba dan berusaha pada rencana yang diniatkannya.
Pada akhirnya, kita perlu untuk jatuh terlebih dahulu untuk memahami arti bangkit. Kegagalan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan proses pembelajaran yang tidak selalu keberhasilan bisa ajarkan. Maka, barangkali sudah waktunya kita untuk mulai menyambut kegagalan dengan riuhan tepuk tangan, bukan lagi dengan kepala yang tertunduk.