Esensi Syukur: Lebih dari Sekadar Ucapan Terima Kasih

(Sumber foto: Pexels/Peggy Anke)

Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang

Sebetulnya bagaimana kita memahami syukur? Saat kita diberi keberkahan oleh Allah, secara refleks kita mengucapkan rasa syukur dengan kalimat-kalimat pujian. Esensi syukur tidak berhenti sampai sana. Kita sering kali membatasi arti bersyukur yang sebenarnya, padahal maknanya jauh lebih dalam dan fundamental dari yang kita kira.

Islam membimbing umatnya dalam memahami syukur. Perintah bersyukur tertulis dalam QS. Ibrahim ayat 7 berbunyi:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim:7).

Ayat tersebut menjelaskan jika kita bersyukur, maka kita akan mendapatkan tambahan nikmat dari Allah. Sebaliknya, jika kita menafikan nikmat-Nya, maka ada azab yang menunggu. Adapun hadis Nabi yang mengajarkan arti bersyukur tertuang dalam hadis riwayat Ahmad dan Baihaqi:

وَمَنْ لاَيَشْكُرِ النَّاسَ لاَيَشْكُرِ اللهَ

Artinya: “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Hadis ini mengemukakan bahwa rasa syukur juga diwujudkan kepada sesama manusia. Dengan berterima kasih dan berupaya membalas kebaikan kepada orang lain merupakan bentuk syukur kepada Allah.

Selama ini syukur sering didefinisikan hanya sebagai bentuk lisan dan sifatnya pasif (menerima). Namun, pada hakikatnya syukur digambarkan sebagai aktivitas aktif. Dalam praktiknya, syukur adalah tindakan. Memanfaatkan segala yang kita miliki dan menerima apa yang kita tidak miliki juga bentuk dari syukur.

قَالَ رُوَيْمٌ: الشُّكْرُ اسْتِفْرَاغُ الطَّاقَةِ

 

Artinya: “Ruwaim berkata: Syukur adalah aktivitas pendayagunaan seluruh kemampuan,” (Al-Qusyairi, al-Risalah Al-Qusyairiyah, [Kairo, Darul Ma’arif, t.t.], Juz 1, hlm. 313).

Nikmat yang Allah telah berikan kepada kita merupakan anugerah yang tidak terkira jumlahnya. Anugerah tersebut tidak berkutat pada hal yang materil, tetapi lebih luas, seperti diberi keluarga, kesehatan tubuh, hubungan sosial, dan pekerjaan. Oleh karena itu, indikator syukur dihitung dari seberapa banyak aksi kita atas nikmat yang telah diberikan.

Tiga Wujud Syukur

Dikutip dari laman resmi Daarut Tauhiid, bentuk syukur dapat diwujudkan dalam tiga poin utama, yakni syukur dengan hati, lisan, dan tindakan.

1. Syukur dengan Hati

Kesadaran hati untuk menerima segala situasi merupakan langkah pertama dari bersyukur. Ketika hati sadar bahwa semuanya merupakan nikmat dari Allah, maka seseorang merasa tenang.

2. Syukur dengan Lisan

Ucapan terima kasih seperti “Alhamdulillah” dan kalimat-kalimat syukur lainnya menjadi wujud syukur yang berharga walaupun terlihat sederhana.

3. Syukur dengan Tindakan

Setelah nikmat Allah kita rasakan dalam hati dan lisan, kita juga dapat mensyukurinya melalui perbuatan. Dengan mendayagunakan apa yang telah diberikan oleh Allah. Contoh kecilnya ketika kita diberikan suatu pekerjaan, lalu kita lakukan dengan profesional dan penuh tanggung jawab.

Tatkala kita diberi hadiah oleh seseorang, selain mengucapkan terima kasih, kita juga memiliki keinginan untuk membalasnya. Rasa syukur pun seperti itu, ketika keberkahan yang diberikan Allah datang di depan mata kita, lantas apa yang bisa kita lakukan untuk-Nya? Kita memiliki keinginan untuk lebih taat lagi dalam beribadah ritual maupun sosial.

Bersyukur itu Berbeda dengan Pasrah

Sementara itu, bagaimana jika kita dilanda musibah atau kemalangan dalam hidup? Apakah kita tetap bisa bersyukur? Walaupun berat untuk dihadapi, pada dasarnya kita tetap perlu untuk bersyukur. Ujian yang berat dan terasa sukar untuk dilalui merupakan pemberian dari Allah yang percaya kita bisa melakukannya. Kasih sayang Allah juga datang dalam bentuk ujian. Namun, bukan artinya kita pasrah karena ujian tersebut.

Rasa syukur berbeda dengan pasrah. Pasrah ialah perasaan menerima apapun yang terjadi, tetapi kadang tanpa pemaknaan yang jelas. Di sisi lain, syukur memiliki makna yang jelas arahnya. Apa yang kita alami dan rasakan hari ini merupakan nikmat Tuhan tidak bisa kita dustakan. Semua yang terjadi selalu menyimpan hikmah yang kerap luput dari pandangan kita. Jika kita lebih cermat menyimpulkan kesulitan dengan rasa syukur niscaya proses itu lebih mudah dilalui.

Aktivitas bersyukur bukan kegiatan yang pasif, melainkan ia aktif. Apa yang kita syukuri lewat ucapan tercermin juga dalam hati dan perbuatan. Tiga bentuk tersebut menyadari kita bahwa syukur memiliki banyak cara dalam memaknaninya. Itulah esensi syukur yang paling hakiki.

 

Sumber bacaan:

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/kenapa-hidup-terasa-kurang-mungkin-cara-kita-bersyukur-salah-5oofH

Syukur dalam Islam: Definisi, Manfaat, dan Cara Mengamalkannya

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top