Humor dalam Islam: Seni Tertawa tanpa Mencela

(Sumber foto: Freepik)

Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang

Hidup tanpa humor akan sangat terasa membosankan. Bercanda adalah cara manusia mengekspresikan perasaannya untuk menyenangkan orang lain. Namun, perlu adanya batas wajar dalam Islam saat bergurau sehingga lawan bicara menerima candaan tersebut. Pernahkah kita terpikir tutur bercanda dapat melukai hati seseorang? Atau justru sebaliknya, senda gurau mendatangkan kebahagiaan yang berharga? Sesungguhnya candaan dapat menjadi bumerang bagi kita.

Islam tidak pernah melarang tertawa ataupun bercanda dalam kehidupan, malah kita dianjurkan untuk melakukannya. Beberapa ustaz di Indonesia terkenal dengan gaya dakwahnya yang humoris. Sebut saja Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Maulana, dan Ustaz Das’ad Latif.

Mengubah suasana yang kaku menjadi cair ialah tujuan utama humor diciptakan. Satu hal yang menjadi catatan ialah seberapa jauh bercandaan kita. Mana yang boleh dan tidak. Baik dari bentuk ucapan maupun perbuatan. Berdasarkan QS. An- Najm ayat 43, Allah berfirman:

وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى ۝٤٣

“bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” (QS.An-Najm: 43)

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat tersebut menjelaskan canda dengan sesuatu yang baik boleh (mubah) dilakukan. Nabi Muhammad sering kali bercanda, tetapi tidak pernah berkata kecuali yang benar.

Humor tidak bisa disisihkan dari kehidupan sehari-hari kita. Ia adalah fitrah manusia yang mampu membuat kita tersenyum sampai tertawa. Dalam Islam, kita boleh saja tertawa asal tidak berlebihan seperti terbahak-bahak hingga terbatuk pula. Jika kita tertawa melampaui batas, maka ia dapat mematikan hati. Kita menjadi sulit untuk menerima kebenaran dan kurang serius dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’ alaihi wa salam:

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Albani].

Hidup tidak terus bercanda melulu. Kita tak hidup abadi di dunia, maka apa yang kita lakukan harus bermanfaat dan bernilai pahala. Jangan sampai kita terlena dan keasyikan untuk terus-menerus bercanda.

Adab Bercanda dalam Islam

Batas bercanda sudah ditetapkan dalam ajaran Islam. Sumber tersebut berasal dari Al-Quran dan Sunnah. Dalam bercanda ada beberapa adab yang perlu umat Muslim cermati. Berikut ajaran Islam ketika hendak bercanda:

1. Candaan tentang agama

Membercandai hal yang bersifat agama, atau yang mengandung nama Allah tidak diperkenankan untuk dilakukan. Hal ini sesuai dengan QS. At-Taubah ayat 65-66. Ayat tersebut menafsirkan mengolok-olok walau atas dasar bersenda gurau merupakan hal yang salah dan berujung mendapatkan dosa.

2. Berbohong agar lucu

Kebohongan yang dibungkus kerap menjadi senjata utama agar mengundang banyak tawa. Namun, Islam melarang cara ini selaras dengan sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasalam: “Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celaka dia, celaka dia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim).

3. Mencaci dan merendahkan orang lain

Tentu dalam bercanda, kita tidak dibolehkan untuk merendahkan harga diri orang lain, Mulai dari yang bentuknya verbal maupun fisik. Mengolok-olok berpotensi menyakiti hati orang lain apabila ia tidak bisa menerimanya. Sebagaimana tertera dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 yang memiliki arti: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

4. Tidak membuat orang lain takut atau sedih

Sebuah candaan yang membuat orang lain takut ataupun sedih dilarang oleh ajaran Islam. Hal tersebut tertuang dalam sabda Nabi Muhammad: “Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya.” (HR. ath-thabrani) “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan maksud bermain-main maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi).

5. Bercanda dengan konteks yang benar

Jangan bergurau ketika serius dan tertawa saat seharusnya menangis. Setiap kondisi tidak selalu harus mengundang tawa. Semua ada tempatnya dan cara mainnya masing-masing. Allah berfirman dalam QS. An-Najm ayat 59-61: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya.” Gurauan yang sesuai dengan konteks sosial dan tatanan hidup masyarakat yang dibolehkan.

Humor Rasulullah SAW

Salah satu contoh humor Nabi Muhammad yang paling terkenal ialah kisah perempuan tua yang sedih karena tahu bahwa di surga tidak ada perempuan tua. Kisahnya begini: seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis perihal kemalangannya. Kemudian Rasulullah menjelaskan salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Riwayat At Tirmidzi).

Kisah lain datang dari seorang sahabat yang menemui Nabi Muhammad dengan tujuan membantunya mencari unta untuk memindahkan barangnya Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?” Rasulullah lantas menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan ia mengerti humor Rasulullah (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Pada dasarnya bergurau sangat boleh dilakukan, hanya saja kita perlu mengetahui beberapa batasan yang sudah tertulis dalam Al-Quran dan Sunnah. Tentunya batasan tersebut tercipta agar jalan kita lebih benar ke depannya. Humor ada untuk kita nikmati dan cermati bersama. Tawa tanpa mencela, tawa tanpa dusta, hingga tawa berladang pahala. Itulah yang perlu kita maknai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top