Menerima Kesedihan tanpa Tenggelam di Dalamnya

(Sumber: Nathan Cowley/Pexels)

Penulis: Farhan Fitra Hillah/Magang

Siapa yang tidak pernah merasakan kesedihan? Tidak ada, semua pernah merasakannya. Sedih merupakan fitrah dan respons manusia ketika mengalami kemalangan, kehilangan, dan situasi sulit lainnya. Kadang ia datang dalam bentuk perasaan yang sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan kata.

Islam menjelaskan perasaan sedih adalah sesuatu yang lumrah dan bisa terjadi pada siapapun, termasuk para nabi dan rasul yang kita ketahui. Misalnya, Nabi Muhammad SAW pada Tahun Kesedihan (Ammul Huzni), yakni ketika istri tercintanya Khadijah dan pamannya Abu Thalib wafat di tahun yang sama. Namun, dalam kesedihannya Rasulullah tidak tenggelam di dalamnya, justru ia hadapi dengan kesabaran dan keimanan. Allah menghadiahinya sebuah perjalanan Isra Mi’raj sebagai bentuk hiburan untuk hatinya.

Kesedihan tidak dapat dihindari, tetapi juga bukan berarti dibiarkan untuk berlarut-larut. Islam mengajarkan kita untuk terus berjalan, tidak putus asa walau dunia tak berpihak pada kita. Kita harus yakin Allah selalu bersama kita, terutama saat sedih menghampiri. Dalam potongan QS. At-Taubah ayat 40 tertulis kalimat indah:

لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Sementara itu dalam surat Al-‘Imran ayat 139, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak patah semangat dan kesedihan ialah bagian dari ujian sehingga akan mendapatkan balasannya tersendiri:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٣٩

“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”

Penerimaan akan rasa sedih memang berat, tetapi perlu dilakukan agar tidak berubah menjadi perasaan hilang harapan, bahkan hingga depresi.

Islam tentu tidak ingin umatnya untuk berpaling dan membenci Allah karena takdir pahit yang dialaminya. Berbanding terbalik dari itu, kesedihan datang sebagai cobaan agar hati kita kuat dan menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya ialah akhirat.

Adapun beberapa cara yang seorang Muslim lakukan untuk menerima sekaligus menghadapi kesedihan. Berikut di antaranya:

1. Validasi Emosi

Izinkanlah diri kita untuk memaknai kesedihan tanpa mengakiminya. Tujuannya ialah untuk memvalidasi emosi tersebut. Kesedihan tidak selalu negatif. Menghargai keberadaan dari rasa sedih karena bagian tak terpisahkan dari manusia.

2. Kenali Akar Masalah

Identifikasi penyebab kesedihan. Orang yang mengetahui penyebabnya maka ia tahu solusinya. Carilah akar masalahnya dengan pandangan yang lebih luas dan terbuka.

3. Jadikan Momen Perubahan

Kesedihan merupakan jalan untuk memahami diri. Momen sedih menjadi kesempatan kita untuk lebih menyelami diri. Ketika perasaan sedih itu muncul, kita berpikir untuk lebih perhatian dan fokus pada sesuatu. Pada akhirnya, kita dapat mengambil tindakan untuk berubah menjadi versi terbaik dari sebelumnya.

4. Mencoba Hal Baru

Untuk menyeimbangkan kesedihan, kita dapat melakukan hal yang menyenangkan. Seseorang bisa melakukan hal atau kegiatan baru yang seru. Tidak salah untuk mengalihkan rasa sedih sejenak, karena kita tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Kita berhak untuk senang.

5. Ibadah sebagai Penawar Kesedihan

Terakhir, sebagai seorang Muslim, kita dapat jadikan salat dan sabar sebagai penawar dari hati yang bersedih. Salat dapat menjadi solusi bagi orang yang bersedih dengan memohon langsung kepada Allah, terutama ketika seseorang salat tahajud dalam heningnya malam.

Sementara itu, sabar merupakan kunci kelapangan hati dalam menerima segala keadaan. Salah satu hadiah yang diberikan Allah kepada orang yang sabar ialah pahal tanpa batas. Sesuai dengan QS.Az-Zumar ayat 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝١٠

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”

Zikir juga menjadi obat ketenteraman bagi jiwa yang sedih, seperti dalam QS.Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”

Kesedihan adalah wujud cinta yang dibungkus dengan perasaan yang sulit untuk diterima. Justru dalam kesedihan banyak mengandung hikmah dan kebenaran. Ia datang bukan sebagai penghalang hidup kita, melainkan karena ia bagian dari hidup kita. Jangan sungkan untuk bersedih, tetapi jangan pula tenggelam di dalamnya. Biarkanlah air mata kita mengalir untuk menumbuhkan jiwa kedewasaan kita untuk lebih siap menghadapi ujian hidup selanjutnya.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top