
Penulis: Sandi Maulana Ibrahim
Lisan merupakan salah satu nikmat besar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Namun di balik manfaatnya, lisan juga bisa menjadi sumber kebinasaan apabila tidak dijaga dengan baik. Dalam Islam, menjaga ucapan bukan sekadar adab, melainkan bagian penting dari keimanan seseorang.
Para ulama dan dai kerap mengingatkan bahwa banyak dosa besar bermula dari lisan. Mulai dari ucapan dusta, ghibah, fitnah, hingga perkataan kasar yang melukai perasaan orang lain. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap bagaimana seseorang berbicara.
Lisan, Penentu Keselamatan Manusia
Dalam sebuah ceramah, Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa mayoritas manusia terjerumus ke dalam api neraka akibat lisannya. Setiap pagi, seluruh anggota tubuh seakan “menasihati” lisan agar bertakwa kepada Allah. Jika lisan lurus, maka anggota tubuh lain pun akan ikut lurus. Sebaliknya, jika lisan rusak, maka perbuatan lainnya akan ikut menyimpang.
Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan lisan sebagai cermin dari kondisi hati. Ucapan yang baik lahir dari hati yang bersih, sementara ucapan buruk menunjukkan adanya penyakit hati.
Sumber Banyak Dosa
Lisan menjadi salah satu anggota tubuh yang paling banyak mendatangkan dosa. Perilaku seperti menggunjing, memfitnah, mencaci maki, dan berdusta sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar. Rasulullah SAW bahkan menjanjikan surga bagi orang yang mampu menjaga apa yang ada di antara dua pipinya (lisan) dan di antara dua kakinya.
Karena itu, menjaga lisan bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga bagian dari usaha meraih keselamatan di akhirat.
Bahaya Berdusta dan Menyebarkan Kebohongan
Salah satu dosa besar yang bersumber dari lisan adalah berdusta. Dalam Islam, dusta dilarang keras dan dapat menggugurkan pahala ibadah, termasuk puasa. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang gemar berbohong adalah mereka yang tidak beriman kepada ayat-ayat-Nya.
Ustadz Khalid Basalamah juga mengingatkan bahaya menyebarkan berita bohong atau hoaks. Dalam hadits, pelaku kebohongan diancam dengan siksa kubur yang sangat pedih, di mana mulut dan hidungnya disobek hingga ke tengkuk. Ancaman ini menunjukkan betapa seriusnya dosa akibat lisan yang tidak terjaga.
Keutamaan Bersikap Jujur
Sebaliknya, kejujuran merupakan sifat mulia yang membawa kepada kebaikan. Kebaikan akan menuntun seseorang menuju surga. Orang yang membiasakan diri untuk berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai Siddiq, sebuah derajat tinggi yang sejajar dengan para nabi dan orang-orang saleh.
Kejujuran tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis dan penuh kepercayaan.
Pengecualian dalam Ucapan
Meski berdusta dilarang, Islam memberikan keringanan dalam tiga kondisi tertentu demi kemaslahatan. Pertama, untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai. Kedua, dalam kondisi peperangan sebagai strategi. Ketiga, antara suami istri untuk menyenangkan dan menenangkan hati pasangan, bukan untuk menipu atau menzalimi.
Menggunakan Lisan untuk Kebaikan
Islam mengajarkan agar lisan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti zikir, doa, menyampaikan kebenaran, dan memberi nasihat. Berpikir sebelum berbicara menjadi kunci agar ucapan tidak menimbulkan dosa dan penyesalan.
Menjaga lisan sejatinya adalah upaya menjaga diri. Dengan ucapan yang baik, seseorang tidak hanya menyelamatkan hubungannya dengan sesama manusia, tetapi juga menjaga hubungannya dengan Allah SWT.